Bedes Yang Berpikir Sebuah Paradoks Eksistensial

Jauh sebelum manusia modern, Bumi sudah dihuni oleh bedes yang memiliki indera pengetahuan. Sebagai makhluk yang berpikir rasional, bedes juga membangun peradaban dan budaya tinggi. Bahkan unggul diberbagai bidang. Bedes bedes ini juga suka adu kekuatan sesama bedes. Hanya bedes yang unggul dan superior yang selalu jadi pemenang. Istilah kaki tangan sudah lama dikenal diperadaban bedes yang berpikir.

I

Bahkan bedes sanggup bertahan dalam tantangan jaman. Daya tahan dan mampu adaptasi terhadap perubahan iklim. Kemampuan yang diperoleh bedes bukan proses instan namun upaya terus menerus, sehingga menjadi peradaban yang unggul.

Uniknya sekalipun berperadaban unggul bangsa bedes suka berperang satu dan lainnya. Kadang persoalan remeh temeh seperti rebutan lapak parkir. Maka bangsa bedes bersama hulubalangnya bersedia mengangkat senjata dan siap menghabisi yang lain.

Mental spiritual yang tinggi terkadang tidak selurus sejalan dengan perilaku bangsa bedes. Diantara mereka saling menipu dan menggunting dalam lipatan. Bahkan bedes juga sanggup lobi lobi tingkat dewa supaya kebijakan menguntungkan kelompok superior.

Sama halnya ketika para bedes yang duduk di dewan bedes bersepakat memperbudak bedes bedes yang lemah untuk diambil jiwa dan raganya dalam sebuah undang-undang raksasa. Undang-undang raksasa bikinan para bedes ini berpotensi mengebiri hak hak bedes bedes lemah yang notabene kelas pekerja.

Protes pun bergulir di seantero negeri bedes bahkan pada saat bersamaan ada wabah yang mengglobal. Bedes bedes yang selama ini tertindas oleh elit bedes berkerumun dalam jumlah yang besar. Bedes bedes ini memprotes tindakan bedes lainnya yang sangat tidak profesional dalam menangani. Bahkan berlaku tidak adil dengan menganggap bedes putih sebagai penyebar kudis panu kurap bahkan rangen.

Perilaku yang sentimen rasialis bedes bedes bukanlah hal yang terberi. Namun sebuah hal yang diajarkan jaman kolonialisme ketika sesama bedes saling menjajah bangsa bedes lainnya. Akibat warisan bedes bedes kolonialisme inilah rasisme semakin menemukan jalannya bahkan di era internet generasi 5.

Investasi Aman Anda Senang Tidur Nyenyak Makan Enak

Hari hari ini masyarakat masih terus dijejali iklan ayo nabung ke bank , belilah properti sekarang juga esok naik sekian persen. Jargon ampuh dunia pemasaran yang sanggup merayu dan membius calon pelanggan. Mantra ajaib diatas adalah ramuan kapitalisme lanjut kalau tidak bisa dibilang hiper.

Realitas sesungguhnya yang tersembunyi dibalik mantra diatas sebisa mungkin tertutupi. Kalau menabung pilihlah lembaga keuangan terpercaya, kalau berasuransi juga sama demikian properti berupa tanah dan atau rumah pilihlah agen dan atau pengembang terpercaya. Semuanya jargon sama atas nama investasi dan masa depan yang meraba raba.

Calon pelanggan bisa orang biasa kelas menengah sampai kaum jetset. Bisa dibilang calon pelanggan potensial, dengan segudang impian masing masing.

Inilah realitas masyarakat komoditas kontempoter semua penuh bujuk rayu. Mulai bangun tidur sampai bangun lagi . masyarakat konsumer dijejali hal remeh temeh diatas. Sampai kapan dan apa batas iklan bujuk rayu diatas. Tidak akan ditemukan jawabannya sebab itu adalah gairah yang terus meluap bagai air bah dimusim hujan.

Bahkan demi beroleh angpao besar ayat yang suci dibuat jualan dengan kedok investasi syariah. Ini sungguh penista agama, sebab sesuatu yang sakral digunakan untuk tipu tipu. Dus semua itu seperti fenomena gunung es semakin kesini semakin banyak korban yang melaporkan ke pihak berwajib karena merasa tertipu.

Belum lagi investasi abal abal yang marak dengan janji tingkat pengembalian yang tinggi dan bila perlu bonus mobil mewah. Semua dilakukan atas nama investasi tipu tipu. Masyarakat yang mudah terbuai dan abai realitas sekitarnya inilah korban yang terbanyak.

Disamping harta yang melimpah nalar dan logika kritis tetap perlu. Jika ingin berinvestasi maka pilihlah instrumen yang sesuai kebutuhan. Mulai dari tabungan, deposito hingga emas. Mengapa ketiga tersebut sebab jelas paling cepat tingkat pengembalian dan mudah dicairkan.

Maka pesanku gunakan kesempatan sebaik mungkin dalam berinvestasi dan tetap gunakan nalar dan akal sehat. Tabik.

Bodoh

Menjadi bodoh tolol bloon atau goblok itu bukan aib juga bukan hal yang memalukan. Sama seperti sakit panu kudis kurap juga rangen ( kutu air ). Ini semakin menemukan jalannya ketika hari hari ini media dibanjiri oleh orang orang pintar. Lihatlah di televisi, anda sekalian akan ketemu orang-orang pintar sedang adu argumentasi ( membual ). Jelas pemirsa akan terbius dengan mantra mantra bualan orang orang pintar.

Maka kehadiran orang orang bodoh diperlukan bahkan sangat penting ketika keadaan semakin genting seperti saat sekarang. Sebaran berita yang searah dan tanpa saring berlangsung begitu saja tanpa sanggah dari pemirsa. Muara jelas demi rating paduka kapitalisme yang semakin telanjang boroknya.

Kenapa orang orang bodoh? Mereka jelas kurang atau bahkan tidak tahu ketika ada peristiwa atau kejadian perihal kebijakan publik atau hal yang berpotensi merugikan mereka. Orang orang bodoh menyandang objek penderita dan setiap saat jadi pesakitan. Kiranya demikian kenapa kemudian keadaan orang-orang bodoh tidak mengalami perubahan dalam kehidupannya.

Lantas pertanyaannya kemanakah orang orang pintar dan terpelajar ?. Mereka sebenarnya berjuang namun belum mencapai keadaan ideal. Mereka masih sibuk dengan urusan dunianya. Maka Tuhan yang pemurah penuh belas kasih dan sayang kepada orang orang bodoh. Demikianlah kiranya keadaan orang orang bodoh mereka selalu hadir di dan dalam penindasan sesama manusia yang merasa dirinya superior. Tabik.

Mengisi Waktu Senggang

Liburan atau waktu senggang pingin ke Jogja. Maka ramai ramai lebih asyik. Kalau mau ini ada contoh jadwalnya.

Berangkat Jumat malam

Jam 21.00 start dari Malang / Pasuruan

Jam 3.30 sampai rumah makan di Klaten

Disini kita istirahat sejenak kemudian mandi dan shalat.

Jam 5.30 sarapan prasmanan

Jam 6.00 start menuju Borobudur

Jam 7.30 sampai Borobudur

Jam 11.00 start ke rumah makan sekitar Borobudur untuk istirahat shalat dan makan prasmanan.

Jam 13.00 start menuju Parangtritis

Jam 14.30 mandi bareng jalan bareng atau suka suka di Parangtritis

Jam 18.00 start menuju hotel budget

Jam 19.00 check in dan makan malam menu nasi goreng telur dadar/ceplok , teh manis.

Jam 20.00 bebas bergentayangan ke Malioboro sampai puas. Jalan kaki atau naik becak ojek .

Jam 24.00 balik ke hotel tidur sampai puas.

Jam 6.00 check out dan makan pagi prasmanan di hotel.

Jam 7.00 start ke pusat oleh oleh

Jam 8.00 borong itu yang ada dipusat oleh oleh (buat yang uang sakunya lebih)

Jam 9.00 start ke candi Prambanan

Jam 12.00 start ke rumah makan buat istirahat shalat makan prasmanan.

Jam 13.30 start ke pusat grosir Surakarta

Jam 18.00 makan nasi kotak plus air mineral

Jam 21.00 balik ke kota asal Malang / Pasuruan.

Jam 4.00 sampai rumah.

Foto diatas hanya pemanis semata.

perkiraan biaya per peserta Rp.575.000.

Dengan bus berkapasitas 60 tempat duduk.

sudah termasuk makanan ringan, hotel, makan 6 kali, tiket masuk tempat wisata dan asuransi.

Borjuis

Kalau yang melakukan perlawanan adalah rakyat maka itu adalah bentuk yang sebenarnya. Soalnya ada elite borjuis bagian dari kekuasaan yang melakukannya. Ini soal joke, jelas bukan kelas badut yang disisipkan saat sebuah pertunjukan mulai membosankan. Realitas politik hari ini badut badut mulai atau semakin merangsek kekuasaan. Mereka jadi elit borjuis negeri ini.

Karakter utama ngelojoh,jorok,mburog dan pura pura baik sambil ngarong anggaran dan mengumbar syahwat. Dus penderitaan rakyat ditambah UU yang menguntungkan badut badut tentang pencemaran nama baik. Sudah jatuh tertimpa tangga tergelincir berkali-kali, lewat mekanisme pemilu yang menjebak nyatanya yang muncul ke permukaan kartel penguasa. Hancur sudah harapan, pemilu menghasilkan manusia pemakan manusia lainnya. Tujuan baik demokrasi lewat pemilu habis sudah digarong kartel partai politik lewat para politikusnya.

Kesengsaraan masih berlanjut tentang konflik lahan. Undang undang reformasi agraria dan tanah untuk rakyat mendesak supaya masuk prolegnas. Namun kelas badut borjuis sepertinya enggan , kooptasi modal.

Sekelumit keruwetan diatas masih akan terus berlanjut. Soalnya kartel kekuasaan yang dibina sejak orbais berkuasa malah beranak pinak dan bikin partai baru.

Akhirnya segala mbelgedes dan sumpah serapah tumpah ruah. Kini rakyat harus sadar dan mampu untuk berdiri tegak menunggu datangnya juru selamat. Namun dalam penantian yang panjang itu hendaklah selalu nyalakan lilin, supaya tidak terjerumus dalam jurang yang sama. Tabik.

Teratai

Hujan masih terus menggerus bumi perlahan dan pasti. Langkah motor sedikit terhambat lantaran menabrak genangan air. Sekalipun begitu ini bukan hal remeh genangan air itu sanggup menggelincirkan kendaraan jika kecepatan tinggi. Maka kita ikuti alurnya pelan pelan seperti hatiku dan hatimu. Pelan diam diam melenakan lantas terlelap dengan mulut menganga. Seperti kemarin ketika air meluap sengaja kupercepat laju motor, hasilnya air membiak tinggi basahi celana.

Esok ketika pagi pagi sekali akan aku usahakan membawa segala pokok untuk urusan besar di kota. Kesempatan di desa kurang menguntungkan, terlebih aku butuh udara segar. Bertemu teman teman yang membuatku beroleh inspirasi. Bercakap cakap mulai politik, sastra, ekonomi sampai peradaban. Memang topik inilah yang aku dan teman teman paling disukai. Sembari mencomot gorengan dan sebatang rokok. Uh sudah seperti berasa dilangit bebas. Obrolan ringan serius yang menghangatkan tubuh juga otak.

Inilah kesempatan besar menembus sekat batas desa dan kota. Memang waktu luang itu sungguh luar biasa. Ia sanggup mempengaruhiku berimajinasi dan proses rekreasi kreatif. Sembari menangkap ide dan pengetahuan dari teman teman mengobrol, memori itu langsung menancap ke otak.

Aku besyukur istri dan anakku mengerti kalau kebiasanku bertamu ke rumah teman teman seperti ini. Proses pengenalan dan pengakraban sangat penting agar kita terbiasa bertemu dengan banyak hal. Ya belajar itu bisa dimana saja, dipasar , dijalan, diwarung bahkan dikeramaian mal mal kota.

Aku bayangkan itu semua satu kesatuan yang bisa kita pelajari. Yang memperkaya khasanah pengetahuan dan kekayaan ilmu. Sungguh suatu kemuliaan tersendiri memiliki kemampuan untuk menghimpun pengetahuan yang berserakan. Laksana samudra dengan jutaan penghuninya sanggup dikatrol dan dimanfaatkan untuk kebaikan bersama. Tabik.

Dalam Naungan Kebersamaan Ketika Hujan dan Gluduk Hadir Saat Itu

Sebuah peristiwa ditandai dengan nama,tempat,waktu dan orang-orang yang terlibat didalamnya. Kehadiran jiwa dan raga pada waktu dan tempat yang sama membawa sebuah sudut pandang baru. Kebersamaan dalam arus yang sama dalam alam pikiran yang berbeda, inilah nikmat karuniaNya.

Sebuah peristiwa dari dua tempat berbeda Surabaya dan Tegal. Keduanya terikat dengan sahabat saya Hamzah. Diatas saya, pak Choi dan sahabat Arif Tri , sahabat Puji dari Krian serta sahabat Fasihin dari Tegal.

Sebuah reunifikasi dari sebuah pergerakan mahasiswa ekstra kampus membalut kami saat itu hingga kini. Setelah sekian lama mereka kembali ke kota masing-masing berkarya dan bermetamorfosa sesuai lingkungan habitatnya.

Kepada sahabat tersebut diatas selamat mereunifikasi dan bisa berjumpa saat yang tepat. Bersama kita bisa , bersama kita berusaha menghadirkan bahagia dihati masing-masing kita. Tabik.

Tahun Baru Harapan Baru

Selebihnya kembali kepada penguat masing-masing. Tahun demi tahun dilalui dengan harapan Dan capaian. Alhamdulillah seiring waktu usaha terus-menerus mulai membuahkan hasil. Lumayan untuk sebuah rintisan baru terjun ke pasar berdagang sandal dan celana. Usaha ini bermula sedari awal sesuai kenyataan dan kemampuan yang ada.

Inti daripada hal diatas usaha dan doa tak henti-henti. Guna mencapai apa yang diinginkan dan dibutuhkan dalam hidup ini. Usaha jadi perantara jasa dan dagang belum berjalan sebagaimana yang diharapkan. Mengingat capaian-capaian belum optimal perlu penilaian ulang dan belajar secara terus-menerus.

Optimasi harus dilipatgandakan dengan melihat strategi teman sesama pedagang. Baik materi maupun kemasan akan jadi lebih menarik. Tentu dengan kesungguhan , kita tatap tahun depan lebih optimis. Tahun ini pijakan awal, tahun depan sebuah lompatan besar. Tabik.