Sarapan

Saya rasakan kopi pagi ini sungguh nikmat sekali.

Musim hujan membawa harapan akan kesuburan. Ya musim ini rumput-rumput depan rumah lebih segar bersanding dengan tanaman lain.

Memang sejak hujan pertama di awal bulan Oktober dan sensasi bau tanah yang kering terkena hujan semua berasa ikut jadi segar.

Ditambah seperti populasi burung berkicau yang masih lestari menjadi semacam berkah tersendiri. Lestari alam harmoni antar manusia , alam dan hewan.

Seperti pagi ini burung-burung berkicau hinggap dari satu dahan ke dahan lainnya. Suatu karunia yang luar biasa dari Tuhan untuk semua.

Yang lebih nikmat lagi sarapan pagi segera tersaji nasi ,sayur pepaya, dadar jagung, tempe goreng dan sambal terasi. Wuih bikin ngiler dan ingin segera menyantap. Tabik.

Unik Namun Butuh Sentuhan

Ditangan saya dua buah potongan kayu mangga dan akar sawo terlihat biasa saja. Namun nanti lihatlah jika ada pada orang yang tepat.

Akar Sawo dan potongan kayu Mangga

Kita tunggu unggahan gambar pada beberapa saat, mengingat butuh ide dan inspirasi untuk mengolah keduanya.

Dunia Yang Tak Kualami

Jauh sebelum saya beranjak dewasa ketika masih SD iseng iseng diajak teman jual sampah. Namun sampah itu berisi kertas koran dan botol bekas. Bertiga kami bawa ke penampung barang bekas. Setelah ditimbang dan dikalkulasi kami dapat uang sekitar seribuan lebih. Wah uang yang besar untuk ukuran kami saat itu.

Uang itu kami gunakan beli jajan,es dan beberapa batang rokok. Hehehe temanku dua itu sudah mula mula merokok kemudian mengajak aku juga. Merokok di sawah biar aman dari jangkauan ortu dan tetangga.

Anehnya kebiasaan mencari uang terus merasuki, giliran main ke terminal angkutan. Ada kakak teman sekolah jual es lilin. Kemudian ia mengajakku juga berjualan. Tentu ambil dari juragan sekitar rumah. Es masuk dalam termos berjumlah kurang lebih 50 an. Hasil hitung sendiri dan bilang ke juragan bawa sekian. “Iya le ati ati tak dungakno laris ,aamiin”. Begitu biasanya kata pengantar dari juragan kepada kami yang berjualan es lilin.

Tiba di terminal kami jajakan es es itu sampai habis kadang juga sisa, seharga 50 rupiah. Uang yang lumayan buat jajan saat itu. Keuntungan tiap es yang kami jual 25 rupiah tiap batang es lilin. Untung yang sangat besar jika habis dikali 50. Serasa berpenghasilan tinggi macam pekerja pabrikan hehehe.

Pulang ke rumah juragan setor dan sering dikasih es lilin gratis se kresek kadang 5 sampai 10 batang es lilin. Sudah dapat uang masih dapat es lilin gratis. Hidup sungguh indah asal kita mau mencoba.

Pernah suatu hari ada pelanggan memuji ” pinter kowe le , Sik cilik wes golek duwek dewe”. Begitu kira-kira pujian pelanggan kepada saya. Saya sendiri baru ngeh bertahun kemudian bahwa usia saya yang masih 7 tahun saat itu. Anak kecil tahunya hanya senang dapat uang tanpa berharap pujian. Dan ini ternyata karakter saya yang abadi tidak butuh pengakuan hanya berkarya dan berkarya.

Namun sebagai manusia biasa kadang saya juga absurd. Berharap imbalan lebih padahal keahlian pas pasan. Kadang tergantung mood yang ini buat psikotes sering buat kurva mirip parabola. Ujungnya nggak lulus tes dan diterima kerja di suatu perusahaan. Hehehe

Inilah hidup yang kadang tak pernah Kualami lagi saat sekarang. Bisa berjualan dengan rasa lepas seperti ketika aku kecil dulu. Saat sekarang berkejaran dengan pendapatan yang ngos ngosan. Entah sampai kapan.

Bedes Yang Berpikir Sebuah Paradoks Eksistensial

Jauh sebelum manusia modern, Bumi sudah dihuni oleh bedes yang memiliki indera pengetahuan. Sebagai makhluk yang berpikir rasional, bedes juga membangun peradaban dan budaya tinggi. Bahkan unggul diberbagai bidang. Bedes bedes ini juga suka adu kekuatan sesama bedes. Hanya bedes yang unggul dan superior yang selalu jadi pemenang. Istilah kaki tangan sudah lama dikenal diperadaban bedes yang berpikir.

I

Bahkan bedes sanggup bertahan dalam tantangan jaman. Daya tahan dan mampu adaptasi terhadap perubahan iklim. Kemampuan yang diperoleh bedes bukan proses instan namun upaya terus menerus, sehingga menjadi peradaban yang unggul.

Uniknya sekalipun berperadaban unggul bangsa bedes suka berperang satu dan lainnya. Kadang persoalan remeh temeh seperti rebutan lapak parkir. Maka bangsa bedes bersama hulubalangnya bersedia mengangkat senjata dan siap menghabisi yang lain.

Mental spiritual yang tinggi terkadang tidak selurus sejalan dengan perilaku bangsa bedes. Diantara mereka saling menipu dan menggunting dalam lipatan. Bahkan bedes juga sanggup lobi lobi tingkat dewa supaya kebijakan menguntungkan kelompok superior.

Sama halnya ketika para bedes yang duduk di dewan bedes bersepakat memperbudak bedes bedes yang lemah untuk diambil jiwa dan raganya dalam sebuah undang-undang raksasa. Undang-undang raksasa bikinan para bedes ini berpotensi mengebiri hak hak bedes bedes lemah yang notabene kelas pekerja.

Protes pun bergulir di seantero negeri bedes bahkan pada saat bersamaan ada wabah yang mengglobal. Bedes bedes yang selama ini tertindas oleh elit bedes berkerumun dalam jumlah yang besar. Bedes bedes ini memprotes tindakan bedes lainnya yang sangat tidak profesional dalam menangani. Bahkan berlaku tidak adil dengan menganggap bedes putih sebagai penyebar kudis panu kurap bahkan rangen.

Perilaku yang sentimen rasialis bedes bedes bukanlah hal yang terberi. Namun sebuah hal yang diajarkan jaman kolonialisme ketika sesama bedes saling menjajah bangsa bedes lainnya. Akibat warisan bedes bedes kolonialisme inilah rasisme semakin menemukan jalannya bahkan di era internet generasi 5.

Investasi Aman Anda Senang Tidur Nyenyak Makan Enak

Hari hari ini masyarakat masih terus dijejali iklan ayo nabung ke bank , belilah properti sekarang juga esok naik sekian persen. Jargon ampuh dunia pemasaran yang sanggup merayu dan membius calon pelanggan. Mantra ajaib diatas adalah ramuan kapitalisme lanjut kalau tidak bisa dibilang hiper.

Realitas sesungguhnya yang tersembunyi dibalik mantra diatas sebisa mungkin tertutupi. Kalau menabung pilihlah lembaga keuangan terpercaya, kalau berasuransi juga sama demikian properti berupa tanah dan atau rumah pilihlah agen dan atau pengembang terpercaya. Semuanya jargon sama atas nama investasi dan masa depan yang meraba raba.

Calon pelanggan bisa orang biasa kelas menengah sampai kaum jetset. Bisa dibilang calon pelanggan potensial, dengan segudang impian masing masing.

Inilah realitas masyarakat komoditas kontempoter semua penuh bujuk rayu. Mulai bangun tidur sampai bangun lagi . masyarakat konsumer dijejali hal remeh temeh diatas. Sampai kapan dan apa batas iklan bujuk rayu diatas. Tidak akan ditemukan jawabannya sebab itu adalah gairah yang terus meluap bagai air bah dimusim hujan.

Bahkan demi beroleh angpao besar ayat yang suci dibuat jualan dengan kedok investasi syariah. Ini sungguh penista agama, sebab sesuatu yang sakral digunakan untuk tipu tipu. Dus semua itu seperti fenomena gunung es semakin kesini semakin banyak korban yang melaporkan ke pihak berwajib karena merasa tertipu.

Belum lagi investasi abal abal yang marak dengan janji tingkat pengembalian yang tinggi dan bila perlu bonus mobil mewah. Semua dilakukan atas nama investasi tipu tipu. Masyarakat yang mudah terbuai dan abai realitas sekitarnya inilah korban yang terbanyak.

Disamping harta yang melimpah nalar dan logika kritis tetap perlu. Jika ingin berinvestasi maka pilihlah instrumen yang sesuai kebutuhan. Mulai dari tabungan, deposito hingga emas. Mengapa ketiga tersebut sebab jelas paling cepat tingkat pengembalian dan mudah dicairkan.

Maka pesanku gunakan kesempatan sebaik mungkin dalam berinvestasi dan tetap gunakan nalar dan akal sehat. Tabik.

Bodoh

Menjadi bodoh tolol bloon atau goblok itu bukan aib juga bukan hal yang memalukan. Sama seperti sakit panu kudis kurap juga rangen ( kutu air ). Ini semakin menemukan jalannya ketika hari hari ini media dibanjiri oleh orang orang pintar. Lihatlah di televisi, anda sekalian akan ketemu orang-orang pintar sedang adu argumentasi ( membual ). Jelas pemirsa akan terbius dengan mantra mantra bualan orang orang pintar.

Maka kehadiran orang orang bodoh diperlukan bahkan sangat penting ketika keadaan semakin genting seperti saat sekarang. Sebaran berita yang searah dan tanpa saring berlangsung begitu saja tanpa sanggah dari pemirsa. Muara jelas demi rating paduka kapitalisme yang semakin telanjang boroknya.

Kenapa orang orang bodoh? Mereka jelas kurang atau bahkan tidak tahu ketika ada peristiwa atau kejadian perihal kebijakan publik atau hal yang berpotensi merugikan mereka. Orang orang bodoh menyandang objek penderita dan setiap saat jadi pesakitan. Kiranya demikian kenapa kemudian keadaan orang-orang bodoh tidak mengalami perubahan dalam kehidupannya.

Lantas pertanyaannya kemanakah orang orang pintar dan terpelajar ?. Mereka sebenarnya berjuang namun belum mencapai keadaan ideal. Mereka masih sibuk dengan urusan dunianya. Maka Tuhan yang pemurah penuh belas kasih dan sayang kepada orang orang bodoh. Demikianlah kiranya keadaan orang orang bodoh mereka selalu hadir di dan dalam penindasan sesama manusia yang merasa dirinya superior. Tabik.