Bahkan Raksasa Pun Tidak Bebas Hambatan

Raksasa itu bernama Alibaba sebuah perusahaan teknologi e commerce yang didirikan oleh Jack Ma. Bagaimana bisa ketika perusahaan yang sehat hendak menarik modal dari pasar modal justru dihambat. Saya kira ini sesuatu yang sangat luar biasa.

Melalui anak usaha Ant Group mimpi itu hendak diwujudkan. Namun apa daya ketika hambatan justru datang dari negara. Inilah kiranya yang bikin saya geleng-geleng sambil seruput kopine.

Namun saya percaya bahwa kebesaran serta reputasi Jack Ma dengan holding companynya sanggup mengatasi keadaan. Ia manusia yang rasional bahkan melampaui generasi pada jamannya.

Kiranya begitulah dunia ekonomi yang tak pernah bebas dari politik. Mengambil kebijakan tidak semudah telapak tangan apalagi sekelas Jack Ma dengan Alibabanya. Salut.

Sinau

Secara umum ada sedikit pemisahan antara usaha dan belajar dengan cukup usaha saja. Seperti kemarin saya dihubungi teman bahwa web milik temannya sedang turun peringkat. Ini belakangan saya ketahui setelah saya lihat web dalam status aktif.

Namun tentu saja peringkat ada dibawah bahkan nyungsep, usut punya usut ternyata saldo habis mungkin melebihi tenggat waktu atau perklik yang sudah melebihi anggaran sekalipun belum 30 hari atau satu bulan. Maka solusinya adalah daftar baru lagi beserta email yang aktif. Saat sekarang email aktif itulah yang terhubung dengan web yang dikelola sendiri.

Nyatanya mengandalkan iklan juga ada gunanya, setidaknya mengerek peringkat dalam pencarian. Namun satu hal yang pasti konten juga lebih penting, mengingat konten yang terus diisi dan dimutakhirkan akan selalu muncul dalam pencarian. Maka kita boleh sedikit berleha-leha dengan tidak bayar iklan.

Keadaan sebenarnya banyak pemilik web alpa hal tersebut. Iklan yang harus mereka bayar jadi tumpuan dalam usaha. Susah memang pada saat yang sama mereka berusaha dan mau sedikit sinau apa saja syarat web bisa peringkat teratas sekalipun tanpa harus bayar iklan. Ini sebenarnya peluang buat content writer menawarkan jasa kepada mereka para pengusaha yang melek teknologi namun alpa untuk mengisi konten web maupun media sosial.

Kartolo Kabur

Nun dikala tahun 90 an ketika saya masih SD, ada hal yang menarik untuk saya ulas. Namanya Kartolo pekerjaan penjual mie pangsit keliling. Setiap harinya Kartolo mulai menjajakan mie pangsitnya selepas Maghrib. Rute biasanya ke arah timur dari rumahnya. Terus sampai batas desa kali kesek namanya.

Entah sudah berapa tahun Kartolo berjualan mie pangsit, yang jelas pelanggannya banyak termasuk saya sekeluarga.

Syahdan suatu malam yang naas selepas isya sekelompok pemuda kampung berkumpul dan menunggu kedatangan Kartolo. Beberapa menit kemudian muncullah Kartolo dengan gerobak dorongannya. Para pemuda berteriak ” lo lo pangsit 5 porsi nyemek nyemek”. Kontan Kartolo kegirangan merasa mendapat rejeki nomplok.

Wong namanya pemuda kampung status pengangguran tiba2 dapat ide cerdik. ” Lo lek Sampek pangsitmu arek2 Iki iso entek 5 mangkok sak arek iso gratis opo gak?”. ” Iso ” jawab Kartolo. ” Tapi lek gak iso ngentekno tak bayari ” kata salah satu pemuda.

Merasa tertantang Kartolo meladeni kemauan para pemuda tersebut. Nyatanya Kartolo jadi pemenang , soalnya yang dijadikan jago habis 5 mangkok sudah muntah-muntah saat porsi baru 2,5 mangkok.

Para pemuda gemetar , gertakan mereka buyar lantaran tak satupun membawa uang. Beruntung pejabat kampung datang dan menasehati para pemuda. Maka Kartolo puas dan para pemuda terselamatkan dan tidak jadi kabur lantaran ingin makan mie pangsit gratis.

Dari sini sebuah pelajaran terpetik bahwa sifat serakah dengan memperdaya orang lain adalah sebuah keburukan. Lebih-lebih Kartolo cuman seorang penjual mie pangsit untuk menafkahi anak dan istrinya.

Maka pulanglah para pemuda yang kelihatan sangar namun culun sebab telah menjadi pecundang. Bahwa aji mumpung itu mengandung syarat dan ketentuan yang berlaku, itu yang oleh para pemuda kampung tidak dipahami.

https://nationalgeographic.grid.id/read/132191118/mengapa-bohemian-rhapsody-menjadi-lagu-terbaik-yang-pernah-ditulis?page=all

https://nationalgeographic.grid.id/read/132191118/mengapa-bohemian-rhapsody-menjadi-lagu-terbaik-yang-pernah-ditulis?page=all

Sarapan

Saya rasakan kopi pagi ini sungguh nikmat sekali.

Musim hujan membawa harapan akan kesuburan. Ya musim ini rumput-rumput depan rumah lebih segar bersanding dengan tanaman lain.

Memang sejak hujan pertama di awal bulan Oktober dan sensasi bau tanah yang kering terkena hujan semua berasa ikut jadi segar.

Ditambah seperti populasi burung berkicau yang masih lestari menjadi semacam berkah tersendiri. Lestari alam harmoni antar manusia , alam dan hewan.

Seperti pagi ini burung-burung berkicau hinggap dari satu dahan ke dahan lainnya. Suatu karunia yang luar biasa dari Tuhan untuk semua.

Yang lebih nikmat lagi sarapan pagi segera tersaji nasi ,sayur pepaya, dadar jagung, tempe goreng dan sambal terasi. Wuih bikin ngiler dan ingin segera menyantap. Tabik.

Unik Namun Butuh Sentuhan

Ditangan saya dua buah potongan kayu mangga dan akar sawo terlihat biasa saja. Namun nanti lihatlah jika ada pada orang yang tepat.

Akar Sawo dan potongan kayu Mangga

Kita tunggu unggahan gambar pada beberapa saat, mengingat butuh ide dan inspirasi untuk mengolah keduanya.

Dunia Yang Tak Kualami

Jauh sebelum saya beranjak dewasa ketika masih SD iseng iseng diajak teman jual sampah. Namun sampah itu berisi kertas koran dan botol bekas. Bertiga kami bawa ke penampung barang bekas. Setelah ditimbang dan dikalkulasi kami dapat uang sekitar seribuan lebih. Wah uang yang besar untuk ukuran kami saat itu.

Uang itu kami gunakan beli jajan,es dan beberapa batang rokok. Hehehe temanku dua itu sudah mula mula merokok kemudian mengajak aku juga. Merokok di sawah biar aman dari jangkauan ortu dan tetangga.

Anehnya kebiasaan mencari uang terus merasuki, giliran main ke terminal angkutan. Ada kakak teman sekolah jual es lilin. Kemudian ia mengajakku juga berjualan. Tentu ambil dari juragan sekitar rumah. Es masuk dalam termos berjumlah kurang lebih 50 an. Hasil hitung sendiri dan bilang ke juragan bawa sekian. “Iya le ati ati tak dungakno laris ,aamiin”. Begitu biasanya kata pengantar dari juragan kepada kami yang berjualan es lilin.

Tiba di terminal kami jajakan es es itu sampai habis kadang juga sisa, seharga 50 rupiah. Uang yang lumayan buat jajan saat itu. Keuntungan tiap es yang kami jual 25 rupiah tiap batang es lilin. Untung yang sangat besar jika habis dikali 50. Serasa berpenghasilan tinggi macam pekerja pabrikan hehehe.

Pulang ke rumah juragan setor dan sering dikasih es lilin gratis se kresek kadang 5 sampai 10 batang es lilin. Sudah dapat uang masih dapat es lilin gratis. Hidup sungguh indah asal kita mau mencoba.

Pernah suatu hari ada pelanggan memuji ” pinter kowe le , Sik cilik wes golek duwek dewe”. Begitu kira-kira pujian pelanggan kepada saya. Saya sendiri baru ngeh bertahun kemudian bahwa usia saya yang masih 7 tahun saat itu. Anak kecil tahunya hanya senang dapat uang tanpa berharap pujian. Dan ini ternyata karakter saya yang abadi tidak butuh pengakuan hanya berkarya dan berkarya.

Namun sebagai manusia biasa kadang saya juga absurd. Berharap imbalan lebih padahal keahlian pas pasan. Kadang tergantung mood yang ini buat psikotes sering buat kurva mirip parabola. Ujungnya nggak lulus tes dan diterima kerja di suatu perusahaan. Hehehe

Inilah hidup yang kadang tak pernah Kualami lagi saat sekarang. Bisa berjualan dengan rasa lepas seperti ketika aku kecil dulu. Saat sekarang berkejaran dengan pendapatan yang ngos ngosan. Entah sampai kapan.

Bedes Yang Berpikir Sebuah Paradoks Eksistensial

Jauh sebelum manusia modern, Bumi sudah dihuni oleh bedes yang memiliki indera pengetahuan. Sebagai makhluk yang berpikir rasional, bedes juga membangun peradaban dan budaya tinggi. Bahkan unggul diberbagai bidang. Bedes bedes ini juga suka adu kekuatan sesama bedes. Hanya bedes yang unggul dan superior yang selalu jadi pemenang. Istilah kaki tangan sudah lama dikenal diperadaban bedes yang berpikir.

I

Bahkan bedes sanggup bertahan dalam tantangan jaman. Daya tahan dan mampu adaptasi terhadap perubahan iklim. Kemampuan yang diperoleh bedes bukan proses instan namun upaya terus menerus, sehingga menjadi peradaban yang unggul.

Uniknya sekalipun berperadaban unggul bangsa bedes suka berperang satu dan lainnya. Kadang persoalan remeh temeh seperti rebutan lapak parkir. Maka bangsa bedes bersama hulubalangnya bersedia mengangkat senjata dan siap menghabisi yang lain.

Mental spiritual yang tinggi terkadang tidak selurus sejalan dengan perilaku bangsa bedes. Diantara mereka saling menipu dan menggunting dalam lipatan. Bahkan bedes juga sanggup lobi lobi tingkat dewa supaya kebijakan menguntungkan kelompok superior.

Sama halnya ketika para bedes yang duduk di dewan bedes bersepakat memperbudak bedes bedes yang lemah untuk diambil jiwa dan raganya dalam sebuah undang-undang raksasa. Undang-undang raksasa bikinan para bedes ini berpotensi mengebiri hak hak bedes bedes lemah yang notabene kelas pekerja.

Protes pun bergulir di seantero negeri bedes bahkan pada saat bersamaan ada wabah yang mengglobal. Bedes bedes yang selama ini tertindas oleh elit bedes berkerumun dalam jumlah yang besar. Bedes bedes ini memprotes tindakan bedes lainnya yang sangat tidak profesional dalam menangani. Bahkan berlaku tidak adil dengan menganggap bedes putih sebagai penyebar kudis panu kurap bahkan rangen.

Perilaku yang sentimen rasialis bedes bedes bukanlah hal yang terberi. Namun sebuah hal yang diajarkan jaman kolonialisme ketika sesama bedes saling menjajah bangsa bedes lainnya. Akibat warisan bedes bedes kolonialisme inilah rasisme semakin menemukan jalannya bahkan di era internet generasi 5.